Ahad, 10 Juni 2012 | Alhamdulillah kami panjatkan segala puji syukur kepada Allah SWT, serta sholawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammada SAW. KAMMI Komisariat Bersama Cikarang melaksanakan kegiatan Musyawarah Komisariat (MUSKOM) 2 sebagai wujud dari kegiatan tahunan yang mana kegiatan tersebut bertujuan sebagai kegiatan “Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Komisariat Periode 2011-2012 dan Pemilihan serta Pembentukan Kepengurusan KAMMI Komisariat Periode 2012-2013”. Senin, 11 Juni 2012
Hasil Ketetapan Musyawarah Komisariat (MUSKOM) II - KAMMI Komisariat Bersama Cikarang
Ahad, 10 Juni 2012 | Alhamdulillah kami panjatkan segala puji syukur kepada Allah SWT, serta sholawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammada SAW. KAMMI Komisariat Bersama Cikarang melaksanakan kegiatan Musyawarah Komisariat (MUSKOM) 2 sebagai wujud dari kegiatan tahunan yang mana kegiatan tersebut bertujuan sebagai kegiatan “Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) Komisariat Periode 2011-2012 dan Pemilihan serta Pembentukan Kepengurusan KAMMI Komisariat Periode 2012-2013”. Sabtu, 12 Mei 2012
Agenda MUSKOM II - KAMMI Komsat Bersama Cikarang
Assalamualaikum Wr. Wb.
Sehubungan dengan akan berakhirnya masa bakti 2011-2012 kepengurusan KAMMI Komisariat Bersama Cikarang, akan diadakan kegiatan Musyawarah Komisariat (MUSKOM) ke-2 yang akan dilaksanakan pada:
Sehubungan dengan akan berakhirnya masa bakti 2011-2012 kepengurusan KAMMI Komisariat Bersama Cikarang, akan diadakan kegiatan Musyawarah Komisariat (MUSKOM) ke-2 yang akan dilaksanakan pada:
By:
Ade Sanusi
On 23.27.00
Rabu, 07 Maret 2012
Minggu, 04 Desember 2011
Problematika Internal Aktivis Dakwah
Assalamualaikum wr.wb.....
Permasalahan gerakan dakwah terlalu kompleks untuk di ungkapkan, namun adanya masalah adalah untuk di seleaikan, bukan untuk di biarkan saja....
Kali ini, adm akan mem posting beberapa masalah internal yang sering terjadi pada jamaah/gerakan dakwah, Agar kader dakwah tahu kelemahan dan kekuranganya, untuk menjadi perbaikan di masa mendatang sehingga estafet pergerakan dakwah ini tetap bergulir. Artikel yang kali ni di posting adalah cuplikan dari sebuah buku tentang dakwah yang penulisnya telah menerbitkan buku-buku dakwah yang cukup terkenal....
Baiklah.... mari kita simak bareng-bareng isi resensinya....
Pembahasan problematika internal lebih didahulukan dari pada pembahasan problematika eksternal karena problem terberat bagi semua jamaah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan.
Permasalahan gerakan dakwah terlalu kompleks untuk di ungkapkan, namun adanya masalah adalah untuk di seleaikan, bukan untuk di biarkan saja....
Kali ini, adm akan mem posting beberapa masalah internal yang sering terjadi pada jamaah/gerakan dakwah, Agar kader dakwah tahu kelemahan dan kekuranganya, untuk menjadi perbaikan di masa mendatang sehingga estafet pergerakan dakwah ini tetap bergulir. Artikel yang kali ni di posting adalah cuplikan dari sebuah buku tentang dakwah yang penulisnya telah menerbitkan buku-buku dakwah yang cukup terkenal....
Baiklah.... mari kita simak bareng-bareng isi resensinya....
Pembahasan problematika internal lebih didahulukan dari pada pembahasan problematika eksternal karena problem terberat bagi semua jamaah dakwah adalah kendala internal. Ketika problematika internal sudah diselesaikan/dikelola dengan baik, maka amanah dakwah lebih mudah ditunaikan dan problematika eksternal lebih mudah diselesaikan.
Problematika
internal yang sering dijumpai dalam jamaah dakwah adalah gejolak
kejiwaan, ketidakseimbangan aktivitas, latar belakang dan masa lalu,
penyesuaian diri, dan friksi internal.
Gejolak kejiwaan sebenarnya
merupakan persoalan yang dimiliki oleh semua manusia biasa. Dan yang
perlu disadari adalah para aktivis dakwah juga manusia biasa. Gejolak
ini tidak bisa dimatikan sama sekali, tetapi perlu dikelola dengan baik
agar tidak merugikan dakwah dan aktivis dakwah.
Di antara gejolak kejiwaan itu adalah: Pertama,
gejolak syahwat. Banyak orang yang terpeleset oleh gejolak ketertarikan
pada lawan jenis ini. Bagi mereka yang belum menikah, gejolak ini
biasanya lebih besar dan lebih berpeluang “menggoda.” Kedua,
gejolak amarah. Seperti kisah Khalid saat menghadapi Jahdam dan pemuka
bani Jazimah, gejolak amarah ini bisa berakibat fatal termasuk bagi
citra dakwah, hubungan antar aktivis dakwah, dan terjadinya fitnah di
antara kaum muslimin. Ketiga, gejolak heroisme. Semangat
heroisme memang bagus dan sangat perlu, tetapi ketika sudah tidak
proporsional ia akan mendatangkan sikap ekstrem yang berbahaya bagi
kemaslahatan dakwah dan umat. Kasus pembunuhan terhadap Nuhaik yang
dilakukan Usamah bin Zaid adalah contohnya. Keempat, gejolak
kecemburuan. Seperti kecemburuan Anshar pada para mualaf yang
mendapatkan hampir semua ghanimah perang Hunain, sikap ini bisa berefek
pada melemahnya soliditas internal jamaah. Meskipun yang dicemburui oleh
Anshar sebenarnya adalah perhatian Rasulullah dan bukan materi
ghanimah-nya, gejolak ini segera diselesaikan Rasulullah karena jika
dibiarkan bisa berdampak negatif.
Ketidakseimbangan aktivitas juga
menimbulkan problematika tersendiri. Ketidakseimbangan antara aktivitas
ruhaniyah dengan aktivitas lapangan, ketidakseimbangan antara dakwah di
dalam dengan di luar rumah tangga, ketidakseimbangan antara aktivitas
pribadi dengan organisasi, ketidakseimbangan antara amal tarbawi dengan
amal siyasi, ketidakseimbangan antara perhatian terhadap aspek kualitas
dengan kuantitas SDM; semuanya bisa berakibat negatif. Tawazun atau
keseimbangan yang merupakan asas kehidupan, juga harus dipraktekkan
dalam kehidupan berjamaah dan oleh semua aktivis dakwah.
Latar
belakang dan masa lalu aktivis yang buruk bisa pula menjadi problematika
internal dakwah jika tidak dilakukan langkah-langkah solutif. Latar
belakang keagamaan keluarga, misalnya. Ia bisa berbentuk lemahnya
tsaqafah Islam, tekanan keluarga yang menentang aktivitas dakwah, dan
kerancuan dalam orientasi kehidupan. Sedangkan masa lalu yang
“jahiliyah” bisa membawa dampak yang kurang menguntungkan bagi
kredibilitas sang aktivis dakwah. Solusi atas problem ini terangkum
dalam kata “mujahadah.” Bagaimana seorang aktivis melakukan muhasabah,
menyadari kelemahannya dan melakukan perbaikan diri. Masa lalu memang
tidak bisa diubah, tetapi pengaruhnya bisa dikendalikan.
Problematika
internal yang keempat adalah penyesuaian diri. Yakni penyesuaian diri
terhadap karakteristik pendekatan dan sikap dakwah yang melekat pada
masing-masing marhalah dan orbit dakwah. Sebagaimana corak dakwah yang
berbeda antara fase Makkiyah dan Madaniyah, bahkan masa sirriyah dan
jahriyah pada fase Makkah yang juga berbeda, dakwah saat ini juga
mengalami hal yang sama; ada tahap-tahapnya. Antara mihwar tanzhimi yang
berkonsentrasi pada konsolidasi internal dan mihwar muassasi yang
konsen pada perjuangan politik membuat beberapa kader dakwah tidak mampu
menyesuaikan diri. Hambatannya bisa karena sifat “kelambanan”
kemanusiaan, kecenderungan jiwa, keterbatasan dan perbedaan tsaqafah,
sampai keterbatasan kapasitas. Untuk mengatasi problem ini dibutuhkan
peran kelembagaan dakwah. Jamaah dakwah perlu melakukan persiapan
perubahan fase dakwah, mensosialisasikan cara pandang yang disepakati
tentang batas-batas pengembangan dakwah sehingga jelas mana yang
termasuk pengembangan (tathwir) dan mana yang termasuk penyimpangan (inhiraf). Jamaah dakwah juga harus mendefinisikan mana yang asholah dan tsawabit, serta mana yang mutaghayyirat.
Problem
internal kelima adalah friksi internal. Friksi ini bisa timbul dari
lingkungan yang kecil seperti intern sebuah lembaga dakwah, atau antar
lembaga, atau antar personal pendukung dakwah. Banyak gerakan dakwah
yang harus tutup usia dan kini tinggal nama karena problematika ini.
Friksi dalam sejarah dakwah memberi beberapa pelajaran penting bagi
kita: bahwa friksi merupakan indikasi kelemahan proses tarbiyah, friksi
menandakan adanya kelemahan dalam penjagaan diri para aktivis dakwah,
restrukturiasi dakwah tepat dilakukan terhadap orang-orang yang telah
memahami karakter dakwah itu sendiri, friksi juga bukti keberadaan ego
manusia, penumbuhan al-wa’yul islami (kesadaran berislam) dan al-wa’yu ad-da’awi (kesadaran dakwah) lebih utama dibandingkan sekadar meletupkan hamasah (semangat) bergerak, dan sangat mungkin friksi timbul karena hadirnya pihak ketiga yang sengaja “memecah” jamaah.
Di ambil dari cuplikan Resensi buku :
Judul Buku : Tegar di Jalan Dakwah; Bekal Kader Dakwah di Mihwar Daulah
Penulis : Cahyadi Takariawan
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Tahun Terbit : November 2009
Tebal : xiv + 242 hlm
Penulis : Cahyadi Takariawan
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Tahun Terbit : November 2009
Tebal : xiv + 242 hlm
By:
Syukron
On 01.08.00
Senin, 07 November 2011
Kisah Nabi Ismail Sebagai Qurban
Kisah Nabi Ismail Sebagai Qurban
Nabi Ibrahim dari masa ke masa pergi ke
Makkah untuk mengunjungi dan menjenguk Ismail di tempat pengasingannya untuk
menghilangkan rasa rindu hatinya kepada puteranya yang ia sayangi serta
menenangkan hatinya yang selalu rungsing bila mengenangkan keadaan puteranya
bersama ibunya yang ditinggalkan di tempat yang tandus, jauh dari masyarakat kota dan pengaulan umum.
Sewaktu Nabi Ismail mencapai usia remajanya
Nabi Ibrahim a.s. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya.
Dan mimpi seorang nabi adalah salah satu dari cara-cara turunnya wahyu Allah ,
maka perintah yang diterimanya dalam mimpi itu harus dilaksanakan oleh Nabi
Ibrahim. Ia duduk sejurus termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia
hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikurniai seorang putera yang sejak puluhan
tahun diharap-harapkan dan didambakan, seorang putera yang telah mencapai usia
di mana jasa-jasanya sudah dapat dimanfaatkan oleh si ayah, seorang putera
yang diharapkan menjadi pewarisnya dan penyambung kelangsungan keturunannya,
tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oelh tangan si ayah
sendiri.
Namun ia sebagai seorang Nabi, pesuruh
Allah dan pembawa agama yang seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi para
pengikutnya dalam bertaat kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan
menempatkan cintanya kepada Allah di atas cintanya kepada anak, isteri, harta
benda dan lain-lain. Ia harus melaksanakan perintah Allah yang diwahyukan
melalui mimpinya, apa pun yang akan terjadi sebagai akibat pelaksanaan perintah
itu.
Sungguh amat berat ujian yang dihadapi oleh
Nabi Ibrahim, namun sesuai dengan firman Allah yang bermaksud : "Allah
lebih mengetahui di mana dan kepada siapa Dia mengamanatkan risalahnya."
Nabi Ibrahim tidak membuang masa lagi, berazam {niat} tetap akan menyembelih
Nabi Ismail puteranya sebagai qurban sesuai dengan perintah Allah yang telah
diterimanya. Dan berangkatlah serta merta Nabi Ibrahim menuju ke Makkah untuk
menemui dan menyampaikan kepada puteranya apa yang Allah perintahkan.
Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang
sgt taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh
ayahnya maksud kedatangannya kali ini, tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang
Nabi Isma'il berkata kepada ayahnya : " Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah
diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai
seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam
melaksanakan perintah Allah itu , agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku
tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua, agar menanggalkan
pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya
pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah parangmu dan
percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar menringankan penderitaan dan
rasa pedihku, keempat, dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku
berikanlah kepadanya pakaian ku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan
dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera
tunggalnya" Kemudian dipeluknyalah Ismail dan dicium pipinya oleh Nabi
Ibrahim seraya berkata: " Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat
kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan
dirinya untuk melaksanakan perintah Allah."
Saat penyembelihan yang mengerikan telah
tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai,
lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang di
tangannya, kedua mata nabi Ibrahim yang tergenang air berpindah memandang dari
wajah puteranya ke parang yang mengilap di tangannya, seakan-akan pada masa itu
hati beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu
pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Pada akhirnya dengan
memejamkan matanya, parang diletakkan pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan di
lakukan . Akan tetapi apa daya, parang yang sudah demikian tajamnya itu
ternyata menjadi tumpul dileher Nabi Ismail dan tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.
Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat
dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pergorbanan Ismail itu hanya suatu
ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan taat
mereka kepada Allah. Ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat
berat itu. Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan
pergorbanan puteranya. untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan
Nabi Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan kebaktiannya
kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan,
sampai-sampai terjadi seketika merasa bahwa parang itu tidak lut memotong
lehernya, berkatalah ia kepada ayahnya: "Wahai ayahku! Rupa-rupanya engkau
tidak sampai hati memotong leherku karena melihat wajahku, cubalah telangkupkan
aku dan laksanakanlah tugasmu tanpa melihat wajahku.". Akan tetapi parang
itu tetap tidak berdaya mengeluarkan setitik darah pun dari daging Ismail walau
ia telah ditelangkupkan dan dicuba memotong lehernya dari belakang.
Dalam keadaan bingung dan sedih hati,
karena gagal dalam usahanya menyembelih puteranya, datanglah kepada Nabi
Ibrahim wahyu Allah dengan firmannya: " Wahai Ibrahim! Engkau telah
berhasil melaksanakan mimpimu, demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang
berbuat kebajikkan". Kemudian sebagai tebusan ganti nyawa Ismail telah
diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor kambing
yang telah tersedia di sampingnya dan segera dipotong leher kambing itu oleh
beliau dengan parang yang tumpul di leher puteranya Ismail itu. Dan inilah asal
permulaan sunnah berqurban yang dilakukan oleh umat Islam pada tiap hari raya 'Iidul Ad ha di seluruh pelosok dunia.
(Di ambil dari kumpulan-kisah Nabi dan Tokoh Islam.)
(Di ambil dari kumpulan-kisah Nabi dan Tokoh Islam.)
By:
Syukron
On 19.31.00
Langganan:
Postingan (Atom)



